Cek Sitemap: Pastikan Sitemap XML Bisa Dibaca Google
Masukkan URL sitemap atau cukup nama domain. Sitemap-nya dicari, XML-nya dicek, URL-nya dihitung, lalu sebagian URL dites untuk redirect, 404, dan noindex.
Hasil cek sitemap
File sitemap
| Sitemap | Jenis | HTTP | URL | lastmod | Masalah |
|---|
URL yang dicek
| URL | HTTP | Hasil |
|---|
Arti "Tidak dapat mengambil" (Couldn't fetch) di laporan sitemap
Di laporan Peta Situs (Sitemaps) Search Console, setiap sitemap yang kamu kirim punya salah satu dari 3 status: Berhasil (Success), Memiliki error (Has errors), atau Tidak dapat mengambil (Couldn't fetch). Kalau sitemap berstatus Tidak dapat mengambil dibuka, keterangannya biasanya "Sitemap could not be read". Artinya Google gagal mengunduh atau membaca file itu di percobaan terakhir, tanpa menyebutkan penyebabnya.
Di balik pesan itu ada dua penyebab yang sangat berbeda. Yang pertama soal waktu: sitemap yang baru dikirim sering tertahan di status ini 1 sampai 2 hari, lalu berubah jadi Berhasil dengan sendirinya. Yang kedua memang ada yang rusak dan akan terus gagal: URL-nya error atau menampilkan halaman HTML, firewall memblokir Googlebot, atau XML-nya rusak.
Tool ini membantu memisahkan keduanya. Kalau semua file di sini bisa diambil dengan status 200 dan XML-nya valid, masalahnya cuma waktu, dan mengirim ulang tiap jam tidak akan mempercepat. Kalau ada yang gagal di sini, Google juga melihat kegagalan yang sama. Penyebab dan cara memperbaikinya saya bahas satu per satu di panduan error pemrosesan sitemap (bahasa Inggris).
Cara tool ini membaca sitemap
Kalau kamu memasukkan URL sitemap, file itu yang dibaca. Kalau cuma memasukkan domain, tool ini mencari baris Sitemap: di robots.txt dulu, lalu mencoba /sitemap.xml, /sitemap_index.xml (Yoast dan Rank Math), dan /wp-sitemap.xml (bawaan WordPress). Format yang dikenali: daftar URL biasa, sitemap index, file gzip, sitemap teks, serta feed RSS atau Atom yang juga diterima Google.
Dari sitemap index, tool ini membuka maksimal 10 sitemap anak sekali cek. Setelah itu sampai 30 URL diambil merata dari file-file tersebut dan dicek satu per satu: request HEAD dulu, GET biasa kalau server tidak mendukung HEAD, lalu GET singkat untuk membaca meta robots.
Sampel ini menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab XML. Apakah URL yang kamu kirim ke Google benar-benar aktif, sudah URL akhir, dan bisa diindeks?
Batas dan aturan format sitemap dari Google
| Aturan | Batas | Nama error di Search Console (versi Inggris) |
|---|---|---|
| URL per file sitemap | 50.000 | Too many URLs in sitemap |
| Ukuran file sebelum dikompres | 50 MB | Sitemap file size error |
| Deklarasi XML | Paling awal, tanpa spasi atau baris kosong di depannya | Leading whitespace |
| Namespace | http://www.sitemaps.org/schemas/sitemap/0.9 | Incorrect namespace |
| Format URL | URL lengkap, karakter khusus di-escape (&), di bawah 2.048 karakter | Invalid URL |
| Host | Sama dengan host sitemap, kecuali kedua website diverifikasi | URL not allowed |
| lastmod | Format W3C Datetime (2026-10-21, atau dengan jam dan zona waktu) | Invalid date |
| Isi file | XML, bukan halaman HTML | Sitemap is HTML |
Sitemap index boleh berisi sampai 50.000 sitemap, tapi tidak boleh berisi index lain. Google mengabaikan <priority> dan <changefreq>, jadi tool ini tidak menilai keduanya.
lastmod hanya berguna kalau jujur
Google sudah menyatakan bahwa <lastmod> hanya dipakai kalau tanggalnya selalu akurat dan bisa dibuktikan. Plugin yang mengisi semua URL dengan tanggal hari ini, atau tanggal di masa depan, justru bikin Google mengabaikan lastmod di seluruh website kamu.
Tool ini menampilkan berapa persen URL yang punya lastmod, tanggal terlama dan terbarunya, serta menandai tanggal masa depan dan format yang salah. Kalau lastmod terbarunya sudah berbulan-bulan lalu padahal website kamu update tiap minggu, berarti generator sitemap-nya tidak memperbarui tanggal.
Isi sitemap cukup dengan URL yang mau diindeks
Sitemap seharusnya hanya berisi URL canonical berstatus 200 yang bisa diindeks. Setiap URL redirect, 404, atau noindex di dalamnya adalah sinyal yang bertentangan. Kamu minta Google mengindeks sesuatu yang di tempat lain kamu larang, atau yang sudah tidak ada.
Google tetap bisa menanganinya. Tapi laporan Pengindeksan halaman jadi penuh baris "Halaman dengan pengalihan" (Page with redirect) dan "Dikecualikan oleh tag 'noindex'" (Excluded by 'noindex' tag) untuk URL yang kamu kirim sendiri, dan masalah yang sebenarnya jadi susah ditemukan. Tabel sampel menampilkan ini per URL. Unduh sebagai CSV, lalu rapikan pengaturan generator sitemap-nya. Jangan edit file-nya manual.
Cara memperbaiki error sitemap yang paling sering
URL sitemap menampilkan halaman HTML. Penyebabnya template 404 yang berstatus 200, plugin maintenance, atau cache yang menyajikan halaman depan. Kecualikan URL sitemap dari cache, lalu buka URL-nya di jendela private.
Ada spasi di awal file (leading whitespace). Hampir selalu ini file tema atau plugin WordPress yang punya baris kosong sebelum <?php atau setelah penutup ?>. Matikan plugin satu per satu dan cek ulang di sini sampai error-nya hilang.
Bisa dibuka di browser tapi Google tidak bisa mengambilnya. Firewall atau proteksi bot sedang menghadang crawler. Kalau tool ini juga terblokir, kemungkinan besar itu penyebabnya. Izinkan Googlebot di aturan firewall, jangan matikan proteksinya.
Alamat yang dikirim salah. Misalnya http padahal https, pakai www padahal tidak, atau path lama. Tool ini menampilkan redirect-nya. Kirim URL akhirnya ke Search Console dan hapus entri yang lama.