Cara Memasarkan Produk agar Cepat Laku, Online dan Offline

Cara memasarkan produk agar cepat laku: kenali pembeli, pilih kanal yang pas (WhatsApp, TikTok Shop, Shopee, Google), promosi gratis dulu, lalu ukur hasilnya.

Oleh Ilham Musyafa · 15 Desember 2024

Cara Memasarkan Produk agar Cepat Laku, Online dan Offline

Cara memasarkan produk yang paling hemat adalah urutan ini: kenali satu tipe pembeli yang paling butuh, cek apakah orang memang mencari produkmu, tentukan alasan kenapa mereka harus memilihmu, lalu fokus di 1 sampai 2 kanal sampai jelas mana yang menghasilkan penjualan. Kebanyakan tips langsung lompat ke taktik: pasang iklan, ikut tren, tiru toko sebelah. Padahal tanpa tiga hal pertama tadi, promosi apa pun cuma jadi tebakan yang mahal.

Panduan ini untuk UMKM dan pemula, termasuk yang jualan produk rumahan dengan modal tipis: cara memasarkan produk secara online per kanal, promosi gratis, produk baru, jalur offline, dan cara mengukur hasilnya.

1. Kenali produk, pembeli, dan permintaan pasar

Tulis kelebihan asli produkmu dan kekurangannya secara jujur. Pembeli pasti menemukan kekurangan itu juga, jadi lebih baik kamu jawab duluan di deskripsi produk daripada calon pembeli pergi diam-diam.

Buat profil satu pembeli

Jawaban seperti "semua orang yang suka camilan" menghasilkan promosi yang tidak diingat siapa pun. Pilih satu tipe pembeli yang paling butuh, lalu isi tabel ini:

PertanyaanContoh (keripik tempe rumahan)
Siapa dia?Mahasiswa dan pekerja kantoran, 20 sampai 35 tahun
Masalahnya apa?Butuh camilan buat kerja atau oleh-oleh yang tidak pasaran
Budget-nya?Rp 15.000 sampai Rp 30.000 per bungkus
Biasanya di mana?TikTok, WhatsApp, Shopee, Google Maps saat cari oleh-oleh
Apa yang membuatnya ragu?"Masih renyah tidak kalau dikirim jauh?"

Baris terakhir yang paling berguna. Keraguan pembeli memberi tahu kamu foto, video, dan kalimat pertama yang harus kamu buat.

Cek permintaan sebelum promosi

Luangkan satu sore untuk melihat apakah orang memang mencari produk seperti punyamu. Sumber gratisnya: saran Google (autocomplete), Google Trends, ulasan produk kompetitor, dan ngobrol langsung dengan 5 calon pembeli.

Untuk saran Google, saya memakai keyword generator, yang menarik semua saran autocomplete untuk satu kata kunci beserta variasi a sampai z. Ketik "cara memasarkan produk", dan saran yang muncul ("di whatsapp", "di tiktok shop", "agar cepat laku", "makanan rumahan") menunjukkan pertanyaan yang benar-benar diketik orang. Ulangi dengan nama produkmu sendiri, misalnya "keripik tempe", lalu catat modifier yang berulang. "Oleh-oleh", "pedas", atau nama kota di belakangnya adalah sudut jualan yang dicari pembeli.

Keyword generator dengan kata kunci "keripik tempe": 400 ide dari autocomplete Google, mulai dari pertanyaan seperti cara membuat keripik tempe untuk dijual.
Keyword generator dengan kata kunci "keripik tempe": 400 ide dari autocomplete Google, mulai dari pertanyaan seperti cara membuat keripik tempe untuk dijual.

Lalu baca ulasan bintang 3 produk kompetitor di Shopee, Tokopedia, atau Google Maps. Ulasan itu biasanya berbunyi "enak, tapi...", dan yang ada setelah "tapi" itulah celah yang bisa kamu isi.

2. Tentukan keunggulan produk (USP)

USP (unique selling point) adalah alasan pembeli memilihmu, bukan toko lain yang muncul di sebelahnya. Biasanya keunggulan ini datang langsung dari langkah 1: celah yang ditinggalkan kompetitor, dicocokkan dengan hal yang memang kamu kerjakan lebih baik.

Isi kalimat ini sampai terdengar wajar:

Untuk [pembeli] yang [masalah], [produk] adalah [kategori]
yang [manfaat utama], beda dengan [pilihan lain] yang [kelemahannya].

Contohnya: "Untuk pekerja kantoran yang butuh camilan meja, keripik tempe ini tetap renyah sampai seminggu setelah dibuka karena dikemas zip lock, beda dengan keripik curah yang melempem besoknya." Kalimat ini langsung jadi judul deskripsi produk, ide video pertama, dan jawaban saat ada yang bertanya di chat.

Kalau kalimat itu tidak bisa diisi, masalahnya bukan di promosi, tapi di produk atau target pembelinya.

3. Cara memasarkan produk secara online, per kanal

Kamu tidak perlu ada di semua tempat. Cukup bagus di 1 sampai 2 kanal yang memang didatangi pembelimu, lalu jalankan minimal 8 minggu sebelum menilai hasilnya. Tabel ini membantu memilih:

KanalBiaya utamaHasil pertamaCocok untuk
WhatsAppWaktuHitungan hari10 sampai 20 pembeli pertama, repeat order
TikTok dan TikTok ShopWaktu, kontenHitungan mingguProduk yang menarik saat diperagakan
InstagramWaktu, foto bagusHitungan mingguProduk visual, membangun merek
Shopee dan TokopediaPotongan per transaksiHari sampai mingguPembeli yang sudah siap belanja
Google dan website sendiriWaktu atau jasaHitungan bulanPembeli yang mencari sesuai kebutuhan
Google BisniskuWaktuHitungan mingguProduk lokal, ambil di tempat

Lewat WhatsApp: status, katalog, dan broadcast

Untuk banyak UMKM di Indonesia, transaksi pertama terjadi di WhatsApp. Pakai WhatsApp Business supaya kamu punya katalog produk, balasan cepat, dan label untuk memisahkan chat yang tanya-tanya dengan yang sudah transfer.

  • Status WhatsApp dilihat orang yang menyimpan nomormu. Pakai untuk stok baru, testimoni, dan promo yang ada batas waktunya.
  • Katalog membuat pembeli bisa melihat harga dan foto tanpa harus bertanya satu per satu.
  • Broadcast hanya sampai ke kontak yang juga menyimpan nomormu, jadi cocok untuk pelanggan lama, bukan untuk orang asing.

Kalau kamu membagikan link produk ke status atau grup WhatsApp, cek dulu tampilannya. Saya biasa menempel URL-nya di cek preview link WhatsApp untuk melihat judul, deskripsi, dan gambar yang akan muncul. Kalau gambarnya kosong, terpotong, atau judulnya malah nama template, perbaiki tag og:image dan og:title di halaman itu sebelum dibagikan. Link tanpa gambar jauh lebih jarang diklik.

Preview link halaman utama tangkaprasa.com di WhatsApp: gambar, judul, dan deskripsi diambil dari tag Open Graph halaman itu.
Preview link halaman utama tangkaprasa.com di WhatsApp: gambar, judul, dan deskripsi diambil dari tag Open Graph halaman itu.

Lewat TikTok dan TikTok Shop

TikTok menyukai video yang memperlihatkan produk sedang dipakai. Video 15 detik keripik yang dipatahkan dekat mikrofon sampai terdengar renyahnya sering lebih laku daripada foto studio. Pola yang bisa diulang:

  1. Dua detik pertama: masalah atau keraguan pembeli ("Masih renyah tidak kalau dikirim ke luar kota?").
  2. Peragaan tanpa banyak potongan, supaya terlihat asli.
  3. Satu kalimat hasil, lalu arahkan ke keranjang kuning.

Di TikTok Shop, produk bisa langsung ditautkan di video dan live, dan program affiliate membuat kreator lain ikut mempromosikan dengan komisi per penjualan. Posting rutin lebih penting daripada sempurna: 3 video pendek seminggu selama 2 bulan memberi pelajaran lebih banyak daripada satu video mahal.

Lewat Instagram

Instagram cocok untuk produk yang dijual lewat tampilan: fashion, kerajinan, kue, dekorasi. Pakai Reels untuk menjangkau orang yang belum mengikutimu, feed sebagai etalase, dan Story untuk testimoni harian. Taruh satu link di bio ke halaman produk atau chat WhatsApp, dan balas semua komentar awal.

Di Shopee dan Tokopedia

Marketplace adalah tempat pembeli yang sudah siap belanja. Yang menentukan laku atau tidaknya produk di sini:

  • Judul produk berisi kata yang diketik pembeli di kolom pencarian marketplace, bukan cuma nama merek. Contoh: "Keripik Tempe Pedas Renyah 200 gr Oleh-Oleh Jogja".
  • Foto pertama yang jelas di layar HP kecil, plus foto detail kemasan dan ukuran.
  • Ulasan awal. Toko tanpa ulasan sulit dipercaya, jadi minta 10 pembeli pertama memberi ulasan dengan foto.
  • Fitur promosi bawaan seperti voucher toko, gratis ongkir, live, dan affiliate. Ikuti yang biayanya masih masuk hitunganmu.

Hitung dulu potongan admin dan biaya promosi per transaksi sebelum menentukan harga, supaya penjualan ramai tidak berakhir rugi.

Di Google dan website sendiri

Akun media sosial dan toko marketplace itu ibarat lahan sewaan. Aturannya, biayanya, dan jangkauannya bisa berubah kapan saja. Website dan profil Google adalah aset milikmu sendiri.

Untuk usaha lokal, mulai dari Google Bisnisku (sekarang namanya Google Business Profile). Isi alamat atau area layanan, jam buka, foto asli, dan bagian produk. Saat orang mencari "oleh-oleh keripik dekat sini", profil ini yang muncul di Google Maps. Faktor apa saja yang berpengaruh di sana saya bahas di sinyal SEO lokal yang berpengaruh.

Website memberi kamu halaman produk yang muncul di Google untuk kata yang diketik calon pembeli, tanpa bayar per klik. Di Tangkap Rasa, rental kamera saya di Jogja, website dan form booking-nya saya bangun sendiri supaya pelanggan dari kanal mana pun berakhir di halaman yang saya kendalikan. Hasil dari Google butuh waktu berbulan-bulan, tapi terus menumpuk. Itu pekerjaan jasa SEO, dan bisa dimulai dari satu halaman produk yang lengkap: foto asli, harga, ongkir, spesifikasi, ulasan, FAQ singkat, dan tombol WhatsApp yang mudah terlihat.

4. Cara memasarkan produk baru yang belum dikenal

Produk baru punya satu masalah utama: belum ada yang percaya. Jadi tugas pertamamu bukan menjangkau sebanyak mungkin orang, tapi mengumpulkan bukti.

  • Bagikan sampel ke 10 sampai 20 orang yang cocok dengan profil pembeli, minta foto dan pendapat jujur sebagai gantinya.
  • Kumpulkan ulasan awal sebelum promosi besar. Satu ulasan dengan foto asli lebih meyakinkan daripada caption panjang.
  • Buka reseller atau affiliate. Reseller dan kreator affiliate sudah punya pembeli yang percaya pada mereka, jadi produkmu meminjam kepercayaan itu.
  • Buat daftar tunggu lewat WhatsApp seminggu atau dua minggu sebelum rilis, supaya di hari pertama sudah ada orang yang menunggu.
  • Siapkan promo pembeli pertama dengan batas waktu jelas, misalnya gratis ongkir untuk 20 pesanan pertama.

5. Cara memasarkan produk offline

Tatap muka masih bisa menutup penjualan yang tidak bisa ditutup feed. Untuk makanan dan kosmetik, coba langsung sering jadi penentu.

  • Bazar dan car free day. Bawa tester, pasang harga yang jelas, dan tempel QR code ke halaman produk atau WhatsApp.
  • Titip jual di warung, kafe, atau toko oleh-oleh yang pembelinya cocok dengan profilmu.
  • Masuk supermarket atau minimarket seperti Indomaret dan Alfamart biasanya butuh izin edar (P-IRT atau BPOM sesuai jenis produk), sertifikat halal untuk makanan, kemasan berlabel lengkap, dan kesiapan stok rutin. Tanyakan syarat terbarunya langsung ke bagian pengadaan atau program UMKM masing-masing.

Hubungkan offline ke online. QR code di kemasan atau spanduk sebaiknya memakai link berlabel UTM (langkah 8), supaya kamu tahu berapa orang dari bazar yang akhirnya membeli lagi secara online.

6. Harga dan promo yang tidak merusak harga

Riset harga produk sejenis, tentukan posisimu, dan siap menjelaskannya. Kalau lebih mahal, nilai tambahnya harus terlihat jelas: bahan, ukuran, daya tahan, atau layanan.

Beberapa cara supaya stok bergerak tanpa membuat pembeli cuma mau beli saat diskon:

  • Promo pembelian pertama supaya orang berani mencoba.
  • Paket bundling yang menaikkan nilai belanja sekaligus menghabiskan varian yang lambat laku.
  • Gratis ongkir di atas nominal belanja tertentu.
  • Hadiah kecil untuk pembelian ketiga.

Produk yang "selalu diskon 50%" membuat orang tidak percaya produk itu layak dibeli dengan harga penuh.

7. Bangun kepercayaan pembeli

Semua langkah di atas bisa mandek kalau orang tidak percaya. Kepercayaan dibangun dari kebiasaan kecil:

  • Kirim link ulasan langsung ke setiap pembeli 2 sampai 3 hari setelah barang sampai.
  • Tampilkan foto dari pembeli, bukan cuma foto buatanmu.
  • Balas komplain dengan cepat dan sopan di tempat umum, karena calon pembeli berikutnya ikut membaca.
  • Beri garansi atau kebijakan retur yang benar-benar sanggup kamu penuhi.
  • Jelaskan produk apa adanya, tanpa klaim berlebihan yang ujungnya mengecewakan.

8. Ukur hasilnya, lalu fokus ke kanal yang laku

Tanpa pengukuran, kamu akan terus mengulang kanal yang terasa sibuk, bukan yang laku. Caranya: pasang Google Analytics 4 (GA4) di website, lalu beri label UTM di setiap link yang kamu bagikan.

UTM adalah label tambahan di URL yang memberi tahu GA4 dari mana pengunjung datang. Saya membuatnya di UTM builder supaya penamaannya konsisten. Misalnya untuk promo November, buat dua link ke halaman produk yang sama:

https://contoh.com/keripik-tempe/?utm_source=whatsapp&utm_medium=social&utm_campaign=promo-november
https://contoh.com/keripik-tempe/?utm_source=instagram&utm_medium=social&utm_campaign=promo-november

Pakai huruf kecil semua, karena GA4 membedakan "WhatsApp" dan "whatsapp" sebagai dua sumber berbeda.

UTM builder untuk link di status WhatsApp: source whatsapp, medium social, kampanye promo-november. Link berlabel ada di bagian atas, dan tool memperkirakan GA4 akan memasukkan kunjungannya ke channel Organic Social.
UTM builder untuk link di status WhatsApp: source whatsapp, medium social, kampanye promo-november. Link berlabel ada di bagian atas, dan tool memperkirakan GA4 akan memasukkan kunjungannya ke channel Organic Social.

Setelah 2 sampai 4 minggu, buka GA4, masuk ke Laporan, lalu Akuisisi, lalu Akuisisi traffic (Traffic acquisition), dan ubah kolomnya ke "Sumber / media sesi" (Session source / medium). Kalau kamu sudah memasang event pembelian atau klik tombol WhatsApp, tambahkan sebagai kolom. Untuk penjualan yang terjadi langsung di chat atau marketplace, catat juga di spreadsheet sederhana: tanggal, kanal asal, dan nominal.

Lalu hitung per kanal: total biaya atau jam kerja dibagi jumlah penjualan. Kanal dengan biaya per penjualan paling rendah diberi waktu lebih banyak, kanal paling boros dihentikan dulu.

Cara memasarkan produk tanpa modal (gratis)

Kalau belum ada uang untuk iklan, kamu masih bisa mulai dengan biaya waktu saja:

  • WhatsApp Business dengan katalog dan status rutin.
  • Video demo di TikTok dan Reels Instagram.
  • Grup Facebook dan Marketplace Facebook untuk pembeli di sekitarmu.
  • Google Bisnisku yang lengkap dengan foto dan produk.
  • Toko di Shopee atau Tokopedia (gratis dibuka, potongan dibayar saat ada transaksi).
  • Minta rekomendasi dari pelanggan puas, dengan hadiah kecil untuk yang mengajak teman.

Pilih 2 dari daftar ini, jalankan rutin selama 8 minggu, lalu ukur seperti di langkah 8. Kalau produkmu sasarannya pasar luar negeri, kanal yang dipakai berbeda lagi, seperti contoh di artikel pemasaran briket arang batok kelapa untuk ekspor.

Contoh: memasarkan keripik tempe rumahan dari nol

Ini contoh rekaan untuk menunjukkan urutannya, bukan kasus nyata dengan hasil nyata. Misalnya kamu membuat keripik tempe di rumah di Jogja dan ingin menjual lebih dari sekadar ke tetangga.

  1. Pembeli: pekerja kantoran dan pembeli oleh-oleh. Keraguan utama: renyah atau tidak saat dikirim.
  2. Cek permintaan: saran Google untuk "keripik tempe" memunculkan modifier seperti "oleh-oleh" dan "pedas", jadi dua kata itu masuk judul produk.
  3. USP: tetap renyah karena kemasan zip lock, tersedia level pedas.
  4. Kanal: WhatsApp untuk lingkaran dekat, TikTok untuk video renyahnya, Shopee untuk pembeli luar kota, Google Bisnisku untuk pembeli oleh-oleh yang ambil di rumah.
  5. Produk baru: 15 bungkus sampel untuk teman kantor dan tetangga, ditukar foto dan ulasan jujur.
  6. Offline: satu kali bazar akhir pekan dengan tester dan QR code berlabel UTM.
  7. Promo: gratis ongkir untuk 20 pesanan pertama, bundling 3 rasa.
  8. Ukur: setelah 4 minggu, bandingkan penjualan per kanal di GA4 dan catatan chat, lalu bulan kedua fokus ke 2 kanal teratas.

Intinya ada di urutan: tidak ada yang diposting sebelum pembeli dan keunggulannya jelas, dan tidak ada kanal yang diperbesar sebelum angkanya menunjukkan kanal itu laku.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Bagaimana cara memasarkan produk agar cepat laku?

Fokus ke pembeli yang paling butuh dan kanal yang sudah mereka pakai. Jawab keraguan utama mereka di foto dan deskripsi, kumpulkan ulasan awal, lalu beri promo pembeli pertama dengan batas waktu. Produk cepat laku biasanya karena tepat sasaran, bukan karena promosinya paling ramai.

Bagaimana cara memasarkan produk online bagi pemula?

Mulai dari WhatsApp Business dan satu kanal konten, misalnya TikTok atau Instagram. Buat video peragaan produk 3 kali seminggu, arahkan ke katalog atau halaman produk, dan catat dari mana setiap pembeli datang.

Bagaimana cara memasarkan produk baru yang belum dikenal?

Kumpulkan bukti dulu sebelum menjangkau banyak orang. Bagikan sampel ke 10 sampai 20 calon pembeli yang cocok, minta foto dan ulasan jujur, lalu buka reseller atau affiliate supaya produkmu ikut dipromosikan orang yang sudah dipercaya pembelinya.

Lebih baik jualan di marketplace atau website sendiri?

Sebaiknya keduanya, dengan peran berbeda. Marketplace memberi pembeli yang sudah siap belanja dengan cepat, tapi aturannya dan potongannya ditentukan platform. Website dan Google Bisnisku adalah aset milikmu yang terus mendatangkan pembeli dari Google tanpa biaya per klik.

Bagaimana cara memasarkan produk lewat WhatsApp?

Pakai WhatsApp Business supaya ada katalog, balasan cepat, dan label pesanan. Unggah status rutin berisi stok baru dan testimoni, kirim broadcast ke pelanggan lama, dan pastikan link produk yang kamu bagikan menampilkan gambar dan judul yang benar.

Apa beda strategi pemasaran online dan offline?

Online menjangkau lebih banyak orang dengan biaya per orang rendah, tapi butuh waktu membangun kepercayaan. Offline menjangkau lebih sedikit orang, tapi pembeli bisa mencoba langsung sehingga lebih cepat yakin. Untuk makanan dan produk lokal, gabungan keduanya biasanya paling efektif.

Berapa biaya untuk memasarkan produk?

Bisa mulai dari nol rupiah kalau kamu memakai kanal gratis dan waktumu sendiri. Iklan berbayar bisa dicoba setelah tahu kanal mana yang laku, dengan anggaran uji yang siap hilang dan batas waktu yang jelas. Nilai setiap kanal dari biaya per penjualan, bukan dari jumlah like.

Ringkasnya: kenali pembeli, cek permintaan, tentukan USP, pilih 1 sampai 2 kanal, kumpulkan ulasan, lalu ukur dan fokus ke yang laku. Kalau kamu mau sisi Google-nya dibereskan supaya pembeli bisa menemukan produkmu sendiri, hubungi saya dan kita susun rencananya untuk bisnismu.